KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN

TRIMESTER I DAN II

A. Tujuan

Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa diharapkan mampu mengetahui komplikasi dan penyulit trimester I dan II

B. Deskripsi materi

  1. 1.      Anemia dalam kehamian

a)      Pengertian anemia

Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin yang di jumpai selama kehamilan pada wanita sehat yang tidak mengalami defisiensi besi atau folat yang di sebabkan oleh penambahan volume plasma yang relative lebih besar dari pada penambahan massa hemoglobin dan volume sel darah. (Cunningham G,2005;h.1463)

b)     Klasifikasi anemia

1)  Anemia Ringan             : Kadar Hb 9 – 11 gr%

2)  Anemia Sedang            : Kadar Hb 7 – 8 gr%

3)  Anemia Berat                : Kadar Hb < 7 gr%

c)      Tanda anemia

Tanda yang berkaitan dengan anemia (Varney H,2006.;h.127)

  1. Pucat
  2. Ikterus
  3. Hipotensi  ortostatik
  4. Edema perifer
  5. Membran mukosa dan bantalan kuku pucat
  6. Lidah halus (papil tak menonjol), lecet
  7. Takikardia
  8. Takipnea, dispnea saat beraktivitas

d)     Gejala yang berkaitan dengan anemia (Varney H,2006.;h.127)

  1. Keletihan, mengantuk
  2. Lemah
  3. Pusing
  4. Sakit kepala
  5. Malaise
  6. Pica
  7. Napsu makan kurang
  8. Perubahan mood
  9. Perubahan kebiasaan tidur.

e)      pencegahan anemia

  1. Pemberian tablet besi

Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang diprioritaskan dalam program suplementasi, dosis yang dianjurkan satu hari adalah dua tablet ( satu tablet menangandung 60 mg Fe dan 200 mg asam folat ) yang dimakan selama paruh kedua kehamilan karena pada saat tersebut kebutuhan akan zat besi sangat tinggi.

  1. Penyuluhan konsumsi tablet zat besi dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga orang cenderung menolak tablet yang diberikan. Penolakan tersebut sebenarnya berpangkal dari ketidaktahuan mereka bahwa selama kehamilan mereka memerlukan tambahan zat besi. Agar mengerti para wanita hamil harus diberikan pendidikan yang tepat misalnya tentang bahaya yang mungkin terjadi akibat anemia dan harus pula diyakini bahwa salah satu penyebab anemia adalah defisiensi zat besi.

f)       Penatalaksanaan medis.

  1. Mendiagnosis

Evaluasi awal pada wanita hamil dengan anemia adalah melakukan  pengukuran hemoglobin, hematokrit, dan indeks-indeks sel-sel  darah merah; pemeriksaan cermat terhadap sediaan apus darah tepi.

  1. Penanganan
  2. Anemia ringan

Pada kehamilan dengan kadar Hb 9 – 10,9 gr% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg/ hari besi dan 400 mg asam folat peroral sekali sehari. Hb dapat dinaikkan sebanyak 1 gr%/ bulan.

  1. Anemia sedang

1)      Pengobatan dapat dimulai dengan pemberian preparat besi feros 600 – 1000 mg/ hari seperti sulfat ferossus atau glukonas ferossus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 gr/ 100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir.( Saifuddin, AB, 2000 )

2)      Pemberian tablet Fe 3×1 ( Varney,H. 2007; h.625 )

  1. Anemia berat

Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg ( 20 ml ) intravena 2×10 ml intramuskuler pada gluteus. Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin. ( Saifuddin,AB. 2000 )

 

 

g)      Pengaruh anemia dalam kehamilan,

a.Dapat terjadi abortus

b.Persalinan prematur

c.Perdarahan antepartum

  1. 2.      Hiperemesis gravidarum

a)      Pengertian Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah berlebihan selama masa hamil karena intensitasnya melebihi muntah normal dan berlangsung selama kehamilan trimester pertama (Varney,2006).

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil hingga mengganggu aktivitas. Batasan mual dikatakan lebih dari 10 kali muntah dengan penurunan keadaan umum ibu.

Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah pada ibu hamil trimester pertama yang terjadi setiap saat (Wiknjosastro,2007).

b)     Penyebab Hiperemesis Gravidarum

Penyebab hiperemesis gravidarum belum pasti, diduga karena faktor hormonal, neurologis, metabolik, psikologis, keracunan, faktor endokrin, paritas, riwayat kehamilan mola dan kembar.

c)      Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum

Peningkatan kadar esterogen dapat menyebabkan mual pada trimester pertama. Apabila mual muntah terjadi terus menerus dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat, dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Sehingga oksidasi lemak tidak sempurna, dan terjadi ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida dan aseton darah.

Mual dapat menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Dehidrasi juga menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang.
Selain terjadi dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, terjadi pula robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma molarry-weiss) yang berakibat perdarahan gastrointestinal (Mansjoer,2000).

d)     Tingkatan dan Gejala Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum terbagi menjadi tiga (3) tingkatan, yaitu

  1. 1.      Hiperemesis gravidarum tingkat I

Hiperemesis gravidarum tingkat I mempunyai gejala seperti: lemah, nafsu makan menurun; berat badan menurun; nyeri epigastrium; penurunan tekanan darah sistolik; lidah kering; turgor kulit kurang; dan mata cekung.

  1. 2.      Hiperemesis gravidarum tingkat II

Hiperemesis gravidarum tingkat II mempunyai gejala seperti: mual muntah hebat; keadaan umum lemah; apatis; nadi cepat dan kecil; lidah kering dan kotor; suhu badan meningkat (dehidrasi); mata cekung dan ikterik ringan; oliguria dan konstipasi; nafas bau aseton dan aseton dalam urin.

  1. 3.      Hiperemesis gravidarum tingkat III

Hiperemesis gravidarum tingkat III mempunyai gejala seperti: keadaan umum jelek; mual muntah berhenti; kesadaran menurun (somnolen hingga koma); nadi kecil, cepat dan halus; suhu badan meningkat; dehidrasi hebat; tekanan darah turun sekali; ikterus dan terjadi komplikasi fatal ensefalopati Wernicke (nistagmus, diplopia, perubahan mental).

e)      Komplikasi Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan pada organ tubuh, diantaranya kelainan organ hepar, jantung, otak dan ginjal. Adapun kelainan organ pada hepar menyebabkan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis; pada jantung menyebabkan jantung atrofi, kecil dan biasa; pada otak menyebabkan perdarahan bercak dan pada ginjal menyebabkan pucat, degenerasi lemak pada tubuli kontroli.

 

f)       Penanganan Hiperemesis Gravidarum

  1. Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang kehamilan muda yang disertai dengan emesis gravidarum;
  2. Anjurkan ibu hamil tidak segera bangun dari tempat tidur agar terjadi adaptasi aliran darah menuju susunan saraf pusat;
  3. Nasehatkan tentang diit ibu hamil: makan porsi sedikit tapi sering, menghindari makanan yang merangsang muntah;
  4. Pemberian obat-obatan ringan seperti: sedatif, vitamin, anti emetik, anti histamin;
  5. Dukungan psikologis berupa: menghilangkan rasa takut, mengurangi pekerjaan, menghilangkan masalah dan konflik;
  6. Perawatan di rumah sakit meliputi: isolasi sampai mual muntah berkurang; penambahan cairan (glukosa 5% 2-3 liter dalam 24 jam, pemberian kalium dan vitamin apabila diperlukan); terminasi kehamilan apabila kondisi memburuk.
  7. Pemeriksaan laboratorium berupa: analisis urun, kultur urin; darah rutin; fungsi hati (SGOT, SGPT, alkaline fostase); pemeriksaan tiroid (tiroksin dan TSH); Na, Cl, K, glukosa, kreatinin, asam urat; serta USG untuk menghindari kehamilan mola.
  8. 3.      Abortus

a)      Pengertian abortus

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, berat janin kurang dari 500 gram dan umur kehamilan kurang dari 20 minggu.

 

 

b)     Etiologi abortus

Penyebab terjadinya abortus antara lain:

  1. Faktor kelainan ovum: degenerasi hidatid villi;
  2. Faktor ibu: penderita anomali kongenital, kelainan letak uterus, kurangnya persiapan uterus, distorsio uterus, peregangan uterus terlalu cepat (kehamilan mola, gemeli);
  3. Gangguan sirkulasi plasenta: penderita nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomali plasenta;
  4. Penyakit ibu: penyakit infeksi, keracunan, malnutrisi, gangguan metabolisme, penyakit kardiovaskuler;
  5. Faktor embrionik;
  6. Kelainan kromosom;
  7. Antagonis rhesus;
  8. Korpus luteum terlalu cepat atrofi atau faktor serviks;
  9. Rangsangan kontraksi uterus: laparotomi, terkejut, uterotonika, dan
  10. Faktor bapak: umur, penyakit kronis (TBC, anemi, jantung, keracunan, malnutrisi).

c)      Klasifikasi abortus

Abortus dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Abortus spontan;

Abortus spontan adalah abortus tidak disengaja, alami.

  1. Abortus provokatus;

Abortus provokatus adalah abortus yang disengaja. Abortus provokatus dapat dibagi menjadi:

  1. Abortus medisinalis (abortus therapeutica), yaitu abortus yang dilakukan karena indikasi medis misal, penyakit jantung, hipertensi, Ca servik;
  2. Abortus kriminalis, yaitu abortus yang dilakukan karena tindakan legal tanpa indikasi medis.
  3. Abortus kompletus (keguguran lengkap);

Abortus kompletus (keguguran lengkap) adalah abortus yang hasil konsepsi (desidua dan fetus) keluar seluruhnya.

Tanda klinis: rasa nyeri dan perdarahan telah berhenti, ostium tertutup, uterus mengecil, rongga rahim kosong.

Terapi: pemberian uterotonika

  1. Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap);

Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap) adalah abortus yang sebagian hasil konsepsinya telah keluar, tetapi desidua atau plasenta masih tertinggal.
Tanda klinis: amenore, nyeri perut, perut mules, pedarahan sedikit/ banyak, keluar jaringan/ fetus, servik terbuka
Terapi: pemberian cairan, digital dan kuretase, uterotonika, antibiotik

  1. Abortus insipiens (keguguran berlangsung);

Abortus insipiens (keguguran berlangsung) adalah abortus yang sedang berlangsung, tidak dapat dipertahankan.
Tanda: perdarahan banyak, ostium terbuka, ketuban teraba, berlangsung beberapa jam, nyeri perut
Komplikasi: kematian ibu, infeksi
Terapi: terminasi kehamilan, pemberian cairan, digital dan kuretase, uterotonika, antibiotik

  1. Abortus iminens (keguguran mengancam);

Abortus iminens (keguguran mengancam) adalah keguguran yang mengancam dan dapat dipertahankan.
Tanda: ostium tertutup, tinggi fundus uteri sesuai umur kehamilan, perdarahan bercak, nyeri perut bagian bawah
Terapi: bed rest total, obat hormonal, antispasmodika
Apabila perdarahan berlanjut, evaluasi kondisi kehamilan dan jika reaksi kehamilan 2 kali berturut-turut negatif maka dilakukan kuretase.

  1. Abortus tertunda (missed abortion), dan

Abortus tertunda (Missed abortion) adalah janin sudah mati, masih di dalam uterus dan tidak keluar 2 bulan atau lebih. Pada fetus yang mati dapat keluar sendiri, atau diresorbsi, mengering dan menipis, atau menjadi mola karnosa.

Tanda: amenore, perdarahan sedikit berulang warna cokelat gelap, fundus tidak bertambah tinggi, reaksi kehamilan negatif, servik tertutup dan ada sedikit darah, perut terasa dingin / kosong.

Terapi: pemberian uterotonika, dilatasi dan kuretase, antibiotik
Komplikasi: hipo atau afibrinogenemia

  1. Abortus habitual

Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.

Etiologi: kelainan ovum/ sperma, faktor ibu (disfungsi tiroid, kelainan korpus luteum, plasenta, malnutrisi, kelainan anatomi, penyakit penyerta kehamilan).
Pemeriksaan: histerosalfingografi, BMR dan kadar iodium darah, psiko analisis.
Terapi: pengobatan kelainan endometrium, kurangi/ hentikan kebiasaan buruk. Pada servik inkompeten dilakukan tibdakan operatif

  1. Abortus infeksius dan abortus septik.

Aborus infeksius adalah keguguran yang disertai dengan infeksi genital.
Abortus septik adalah keguguran yang disertai dengan infeksi berat, penyebaran kuman sampai peredaran darah/ peritonium.
Tanda: amenore, perdarahan, keluar jaringan
Tanda abortus septik: sakit berat, panas tinggi, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun, syok

Pemeriksaan: kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan, tanda infeksi genital

Terapi: pemberian cairan, antibiotik, tindakan operatif

d)      Komplikasi abortus

Komplikasi abortus antara lain:

  1. Perdarahan (hemorrhage);
  2. Perforasi;
  3. Infeksi dan tetanus;
  4. Ginjal akut, dan
  5. Syok
  6. 4.      KET

a)      Pengertian kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik adalah kehamilan abnormal yang terjadi di luar rongga rahim, janin tidak dapat bertahan hidup dan sering tidak berkembang sama sekali. Kehamilan ektopik disebut juga ectopic pregnancy, ectopic gestation, eccecyesis. Kehamilan ektopik merupakan penyebab kematian ibu pada umur kehamilan trimester pertama. Frekuensi kejadian kehamilan ektopik berkisar 1: 14,6 % dari seluruh kehamilan.

b)     Penyebab kehamilan ektopik

Penyebab kehamilan ektopik belum diketahui secara pasti. Namun demikian, penyebab kehamilan ektopik yang paling sering adalah faktor tuba (95%). Di bawah ini merupakan penyebab kehamilan ektopik:

  1. Faktor tuba, meliputi: penyempitan lumen tuba, gangguan silia tuba, operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna, endometriosis tuba, tumor;
  2. Faktor ovum, meliputi: rapid cell  devision, migrasi eksternal dan internal ovum, perlekatan membran granulosa;
  3. Penyakit radang panggul;
  4. Kegagalan kontrasepsi;
  5. Efek hormonal, meliputi: penggunaan kontrasepsi mini pil, dan
  6. Riwayat terminasi kehamilan sebelumnya.

c)      Klasifikasi kehamilan ektopik

Beberapa klasifikasi kehamilan ektopik adalah:

  1. Kehamilan interstisial (kornual)

Kehamilan interstisial merupakan kehamilan yang implantasi embrionya di tuba falopi. Pasien menunjukkan gejala yang cukup lama, sulit didiagnosis dan lesi menyebabkan perdarahan masif ketika terjadi ruptur. Pada usia kehamilan 6-10 minggu akan terganggu. Hasil konsepsi dapat mati dan diresorbsi, keguguran, ruptur tuba. Angka kematian ibu akibat kehamilan interstisial adalah 2 %. Penanganan pada kasus ini dengan laparatomi.

  1. Kehamilan ovarium

Kehamilan di ovarium lebih sering dikaitkan dengan perdarahan dalam jumlah banyak dan pasien sering mengalami ruptur kista korpus luteum secara klinis, pecahnya kehamilan ovarium, torsi, endometriosis.

  1. Kehamilan servik

Kehamilan servik merupakan kehamilan dengan nidasi di kanalis servikalis, dinding servik menjadi tipis dan membesar. Kehamilan di servikalis ini jarang dijumpai. Tanda dari kehamilan ini adalah: kehamilan terganggu, perdarahan, tanpa nyeri, abortus spontan. Terapinya adalah histerektomi.

  1. kehamilan abdominal

Kehamilan abdominal terbagi menjadi: primer (implantasi sesudah dibuahi, langsung pada peritonium/ kavum abdominal) dan sekunder (embrio masih hidup dari tempat primer). Kehamilan dapat aterm dan anak hidup, namun didapatkan cacat. Fetus mati, degenerasi dan maserasi, infiltrasi lemak jadi lithopedion/ fetus papyraceus. Terapi kehamilan abdominal adalah: laparotomi, plasenta dibiarkan (teresorbsi).

d)     Faktor resiko kehamilan ektopik

Kondisi yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kehamilan ektopik diantaranya adalah: endometriosis; riwayat radang panggul; riwayat kehamilan ektopik sebelumnya; riwayat pembedahan tuba; riwayat infertilitas; riwayat pemakaian IUD belum lama berselang; riwayat penyakit menular seksual (PMS) seperti: gonore dan klamidia; faktor usia hamil di atas 35 tahun; riwayat kebiasaan buruk (merokok) dan pasien dalam proses fertilisasi in vitro.

e)      Gejala dan tanda kehamilan ektopik

Ibu hamil yang mengalami kehamilan ektopik akan merasakan gejala pada usia kehamilan 6-10 minggu. Adapun gejala dan tanda yang dirasakan antara lain: amenorea/ tidak haid; Nyeri perut bagian bawah; perdarahan per vaginam iregular (biasanya dalam bentuk bercak-bercak darah); rasa sakit pada salah satu sisi panggul; tampak pucat; tekanan darah rendah, denyut nadi meningkat, ibu hamil mengalami pingsan dan terkadang disertai nyeri bahu akibat iritasi diafragma dari hemoperitoneum.

f)       Diagnosis kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik biasanya sulit didiagnosa dengan cepat, dikarenakan tanda dan gejala sama dengan kehamilan normal. Untuk menegakkan diagnosa, maka dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Anamnesis, untuk mengetahui keluhan yang dirasakan ibu;
  2. Pemeriksaan fisik;
  3. Tes kehamilan;
  4. Pengukuran kadar beta-HCG;
  5. Sonografi transvaginal, untuk mendeteksi kantung kehamilan intrauterin;
  6. Kuldosintesis, untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah;
  7. Pemeriksaan hematokrit;
  8. Dilatasi dan kuretase, dan
  9. Laparoskopi,  digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lainnya meragukan.

g)      Penatalaksanaan kehamilan ektopik

Adapun penatalaksanaan pada kasus kehamilan ektopik antara lain:

  1. Terapi medikamentosa

Terapi medikamentosa dapat dilakukan dengan pemberian Metotreksat (MTX), injeksi intramuskular 50 mg/m2 merupakan pengobatan yang efektif untuk pasien-pasien yang memenuhi kriteria. Dosis diberikan pada hari ke 1, tetapi kadar beta-HCG akan mengalami peningkatan selama beberpa hari. Kriteria untuk mendapatkan metotreksat adalah: stabil secara hemodinamik tanpa perdarahan aktif, pasien ingin mempertahankan kesuburannya, tidak ditemukan gerakan janin  dan kadar beta-HCG tidak lebih 6000 mIU/ml.

Adapun kontraindikasinya adalah: imunodefisiensi, ibu menyusui, alkoholisme, leukopenia, penyakit paru aktif, disfungsi hati, disfungsi ginjal, gerakan jantung embrio dan kantung kehamilan lebih dari 3,5 cm.

  1. Terapi pembedahan

Terapi pembedahan definitif berupa salpingektomi merupakan terapi pilihan untuk wanita yang secara hemodinamik tidak stabil. Adapun terapi pembedahan konservatif yang sepenuhnya sesuai untuk pasien dengan hmodinamik stabil adalah:

  • Salpingostomi linear laparoskopik adalah prosedur yang paling sering digunakan.
  • Salpingektomi parsial meripakan pengangkatan bagian tuba falopi yang rusak dan diindikasikan ketika terdapat kerusakan yang luas atau perdarahan lanjutan setelah salpingostomi.

 

h)     Prognosis kehamilan ektopik

Sepertiga dari wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik, untuk selanjutnya dapat hamil lagi. Kehamilan ektopik bisa terjadi kembali pada sepertiga wanita dan beberapa wanita tidak hamil lagi. Kemungkinan wanita dapat berhasil hamil, tergantung dari: faktor usia, apakah sudah memiliki anak dan mengapa kehamilan ektopik pertama terjadi. Sedangkan tingkat kematian akibat kehamilan ektopik telah terjadi penurunan dalam 30 tahun terakhir menjadi kurang dari 0,1%.

i)        Komplikasi kehamilan ektopik

Komplikasi yang dapat timbul akibat kehamilan ektopik, yaitu: ruptur tuba atau uterus, tergantung lokasi kehamilan, dan hal ini dapat menyebabkan perdarahan masif, syok, DIC, dan kematian.

Komplikasi yang timbul akibat pembedahan antara lain: perdarahan, infeksi, kerusakan organ sekitar (usus, kandung kemih, ureter, dan pembuluh darah besar). Selain itu ada juga komplikasi terkait tindakan anestesi.

  1. 5.      Molahidatidosa

a)      Pengertian molahidatidosa

Kehamilan mola hidatidosa adalah suatu kondisi tidak normal dari plasenta akibat kesalahan pertemuan ovum dan sperma sewaktu fertilisasi (Sarwono Prawirohardjo, 2003).

Mola hidatidosa adalah penyakit neoplasma yang jinak berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kristik villi dan perubahan hidropik sehingga tampak membengkak, edomatous, dan vaksikuler (Benigna).

b)     Kejadian molahidatidosa

Kehamilan mola hidatidosa ditemukan pada wanita dalam masa reproduksi dan multiparitas. Kejadian kehamilan mola hidatidosa di rumah sakit besar Indonesia berkisar 1 dari 80 kehamilan. Sedangkan di negara barat prevalensinya adalah 1 : 200 atau 2000 kehamilan.

c)      Patofisiologi molahidatidosa

Penyakit trofoblastik gestasional (GTD) terjadi ketika diferensiasi sel normal dalam blastokis berhenti dan sel trofoblastik berpoliferasi. Poliferasi trofoblas mengakibatkan peningkatan kadar hCG. Mola hidatidosa komplit terjadi ketika ovum tidak mengandung kromosom dan sperma mereplikasi kromosomnya sendiri ke dalam zigot abnormal. Gambaran mikroskopik kehamilan mola hidatidosa antara lain proliferasi trofoblas, degenerasi hidopik dari stroma villi, serta terlambatnya pembuluh darah dan stroma.

d)     Klasifikasi molahidatidosa

Kehamilan mola hidatidosa dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Mola hidatidosa lengkap

Mola hidatidosa lengkap apabila vili hidropik, tidak ada janin dan membran, kromosom maternal haploid dan paternal 2 haploid.

  1. Mola hidatidosa parsial

Mola hidatidosa parsial apabila janin tidak teridentifikasi, campuran villi hidropik dan normal, kromosom paternal diploid.

  1. Mola hidatidosa invasive

Mola hidatidosa invasif apabila korioadenoma destruen, menginvasi miometrium, terdiagnosis 6 bulan pasca evakuasi mola.

e)      Etiologi kehamilan molahidatidosa

Penyebab kehamilan mola hidatidosa antara lain faktor ovum, imunoselektif trofoblas, sosio ekonomi rendah, paritas tinggi, umur hamil ibu di atas 45 tahun, kekurangan protein, infeksi virus dan faktor kromosom.

f)       Tanda dan gejala molahidatidosa

Kebanyakan wanita dengan kehamilan mola juga mengalami reaksi kehamilan seperti wanita hamil normal. Wanita dengan GTD mengalami perdarahan bercak coklat gelap pada akhir trimester pertama. Hipertensi dan hiperemesis akibat kehamilan sebelum umur kehamilan 20 minggu. Inspeksi pada muka dan badan tampak pucat kekuning-kuningan atau disebut muka mola (mola face). Pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan, tidak ditemukan ballotemen dan denyut jantung janin, keluar jaringan mola.

Kadar hCG tinggi dan tiroksin plasma juga mengalami peningkatan. Pemeriksaan USG terdapat gambaran vesikular (badai salju) dan tidak terlihat janin.

g)      Komplikasi molahidatidosa

Komplikasi yang dapat timbul akibat kehamilan mola hidatidosa adalah:

  1. Perdarahan hebat sampai syok;
  2. Perdarahan berulang;
  3. Anemia;
  4. Infeksi sekunder;
  5. Perforasi karena tindakan dan keganasan, dan
  6. Keganasan apabila terjadi mola destruens/ koriokarsinoma

h)     Penatalaksanaan molahidatidosa

Prinsip penatalaksanaan kehamilan mola hidatidosa adalah evakuasi dan evaluasi.

  1. Jika perdarahan banyak dan keluar jaringan mola, maka atasi syok dan perbaiki keadaan umum terlebih dahulu;
  2. Kuretase dilakukansetelah diagnosis dapat ditegakkan secara pasti;
  3. Pemeriksaan dan pemantauan kadar hCG pasca kuretase perlu dilakukan mengingat kemungkinan terjadi keganasan;
  4. Penundaan kehamilan sampai 6 bulan setelah kadar HCG normal, dan
  5. Pemberian kemoterapi pada mola hidatidosa dengan resiko tinggi.

 C. Pertanyaan / tugas

Jawablah pertanyaan dibawah ini :

  1. Apa pengetian dari anemia?
  2. Apa pengertian dari hiperemesis gravidarum?
  3. Apa perngertian dari abortus?
  4. Apa pengertian dari KET?
  5. Apa pengertian Molahidatidosa?

D. Referensi

  • Syaifudin AB, (2009), Buku acuhan nasional pelayanan kesehatan maternal & neonatal, Jakarta. YBPSP
  • Mtai, Matthews, dekk, 2000, Impac Managing Complication in Pregnancy and Childbieth, Departemen of reproductive health and research.
  • Hanifah Wiknjosastro. (2009). Ilmu bedah kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
  • Mayes, midwifery, 12 th Edition 2000
  • Varney’s H, 1997, Midwifery, UK, Jones and Bartlett Publisher
  • Mochtar R, 1998, Sinopsis Obstetri jilid 1, Jakarta.
  • Linda V, Walsh, midwifery, 2001
  • Debora bick, 2002, portuatal care, evidence and guide lines for management
  • Manuaba, ida bagus, (1998). Ilmu kebidanan dan penyakit kandungan dan KB untuk pendidikan bidan, Jakarta : ECG
  • Winkjosastro, hanifah. (2001) ilmu kebidanan ed.3. yayasan bina pustaka sarwono prawiharjo. Jakarta
  • Winkjosastro, hanifah. (1999) ilmu kandungan. yayasan bina pustaka sarwono prawiharjo. Jakarta
  • Billington, mary (2009). Kegawatan dan kehamilan dan persalinan : buku saku kebidanan. Jakarta : ECG
  • Manuaba, ida ayu chandranita (2008). Buku ajar patologi obstetric untuk mahasiswa kebidanan.jakarta: ECG
  • Anik maryunani dkk. (2009). Asuhan kegawatdaruratan dalam kebidanan. Jakarta : TIM
  • Ai yeyeh rukiyah. (2009). Asuhan kebidanan IV. Jakarta : TIM
  • Dr. Adi Sukrisno. (2010). Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta : TIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s